February 4, 2019

1

To Find Me: An Expedition

Ketika jantung manusia hilang—bukan berhenti berdetak—hanya saja hilang, dalam pengertian paling konyol, berdetak namun kehilangan jantung. Manusia, binatang berakal dan rasional itu, berbondong-bondong berupaya mencarinya, mengembalikan dirinya ke titik semula. Memanusiakan (sisi) manusianya.  Hidup sekali lagi seperti reinkarnasi. Merasakan rasanya bernafas bebas, bahkan jika tanpa oksigen.

Ada harapan jauh dilubuk hati, untuk suatu hari bebas dari segala bentuk eksploitasi, bahkan dari diri sendiri. Mungkin hari ini saya masih mengeksploitasi diri sendiri, dari segala nilai yang eksistensinya hanya bersifat temporer. Bicara mengenai nilai, begini, sesungguhnya saya benci angka-angka tertentu yang gunanya untuk mengukur, dan mengukur disini berkaitan dengan nilai. Kemudian, Nilai mengacu pada kadar hidup seseorang, yang pada akhirnya melahirkan pretensi tertentu. Pretensi ini adalah ‘jubah’ yang dapat kita tentukan. Namun teman-teman, sayangnya, telah kita sadari bahwa mungkin hari ini, bahkan soal pretensi dimuka publik  atau jubah yang kita kenakan, tak lagi hanya dapat kita tentukan oleh diri sendiri. Semua hal yang mampu mengukur kita, juga mampu menentukan jenis jubah apa yang akan kita kenakan.

when did life become a blur?

Di awal umur 20, saya mengalami situasi-situasi ngambang. Umur 17-18 saya clueless,  dan hari ini di paruh 19 tahun, “I need subtitles for this life i am living” menjadi definisi paling sempurna untuk menjelaskan kegilaan saya sekarang. Saya bisa menangis terus bahagia lagi, saya bisa bahagia terus menangis lagi. Setiap hari ada saja pertanyaan mengenai ‘Hidup’ dan jawaban yang saya anggap tidak masuk nalar untuk dilahap habis demi memahaminya.

Bagaimana dengan jantung yang hilang? Tentunya masih. Saya masih kehilangan identitas saya, dan sedang ditengah ekspedisi menemukannya. Untuk (semoga) dapat kembali merasakan esensi hidup dengan jantung (amin). Di atas identitas sendiri, nama dan jati diri sendiri.

Yang membuat saya mulai menulis yakni kegamangan terhadap pertanyaan tentang hidup, rasanya sukar sekali tinggal di dunia. Rasanya ada saja kendala. Dan sebelum mengantarkan saya untuk berani menulisnya, saya sudah paham benar bagaimana rasanya menolak fakta mengenai mungkin lo hanya kurang bersyukur, kurang berempati, kurang bersedekah, dan mungkin terlalu sering melihat ke atas, beserta teman-temannya. Namun, nyatanya saya selalu bermuara di tengah ruang kamar saya dalam keadaan mata basah dan bertanya-tanya.

Beberapakali saya bertanya kepada teman-teman, “Hidup lo bahagia gak?” dan dengan terkejut, tidak sedikit yang bilang tidak. Dan saya mulai memiliki jawaban atas pertanyaan saya sendiri, dengan cara mendengar orang-orang. Memahami medan seperti apa yang mereka lalui. Bagaimana cara mereka bertahan dan melaluinya. Padahal, sebelumnya saya sudah tidak asing dengan frase mengenai hidup seseorang yang berbeda-beda, masalah yang dihadapi pun berbeda-beda, dan cara menyikapinya tentu berbeda-beda pula. Tapi yang tak saya temukan disana, adalah pemahaman dari diri saya sendiri. Rupanya, hidup tidak melulu tentang nasehat. Rupanya, belajar sendiri jauh melebihi dari hanya mendengar nasehat orang lain. Karena, ingat, medan kita berbeda-beda.

What we need to highlight here is terkadang, we only see some parts of us that we lack about. Sayangnya segala perasaan—hal-hal yang berbau emosional—tak dapat di atur dengan mudah. Saya tak bisa menyuruh hati bahagia ketika sedang tidak, dan begitu sebaliknya. Semua lahir murni karena kondisi yang sedang kita alami. Perasaan murung mengantarkan kita kemari. Ke titik terendah yang kami miliki, bermuram, berharap dunia tiba-tiba menjadi sesuai harapan kita. Hal yang saya kerap lupakan bahwa, saya ditaruh di dunia atas perintah-Nya, untuk menjalani trajektori yang sudah diberikan. Soal suka atau tidak, mau atau tidak, baik atau buruk, itu sudah jauh letaknya dari tangan manusia. Toh katanya begini, Tuhan telah memberikan hidup yang paling baik untuk hamba-Nya. Dan mengenai kesukaran, Tuhan pun tak memberikan tingkat yang tak mampu hamba-Nya lewati. Jadi, bagaimana cara terbaik untuk tidak terenyuh kepada bagian-bagian dari diri kita yang kita kira kurang—padahal memang sudah dari sananya diberi jenis trajektori seperti ini?

Mungkin rasanya sulit untuk tidak melakukan perbandingan. Untuk tidak memperhatikan lubang-lubang dari diri kita. Untuk menimbulkan persepsi atas hidup orang lain yang terlihat menyenangkan. Kadang kita lupa rasanya bahagia, sampai begitu ingin untuk menjadi bahagia. Ingin menjadi seragam seperti orang lain: memiliki barang yang bernilai, tempat tinggal yang baik, kekasih yang penyayang, orang tua yang kaya raya. Ingin ini ingin itu.

Dan, apa juga sebenarnya motif untuk menjadi seragam ditengah kehidupan sosial? living here where we buy something only by clicks and get it later on, we hella need an approval. Untuk dinilai pantas berada ditengah mereka. Untuk menjadi bagian dari mereka. Untuk dilihat dan divalidasi. Kemudian lagi-lagi, inilah bagaimana ‘mereka’ memutar otak kita agar mencari cara untuk mengenakan sejenis pretensi yang ada, sehingga layak berselancar dilautan..... dimana sebagian besar orang-orang seperti kita dengan insecurity yang juga besar—mengapung dengan jubah-jubah mereka.

Menjelaskan ini semua terasa seperti menjilat ludah sendiri.  As I early said, saya benci dengan adanya angka-angka tak kasat mata yang berguna untuk mengukur kadar hidup seseorang. Dan mengenai pretensi demi validasi, saya harus bilang hal ini ikut melahap saya, sehingga saya di hari ini, memandang hidup bagai bayangan kabur. Saya hendak namai ini sebagai tragedi psikologi, tapi apa daya, saya hanya seorang awam. Namun, perlu digarisbawahi, semua hal yang mengguncang keseimbangan otak saya ini, yang menjadikan pandangan hidup kabur, mengantar saya kepada suatu fakta: bahwa saya sedang dalam ekspedisi.

Untuk menemukan jantung saya, sehingga (semoga) nantinya saya tak lagi menggunakan jubah atau pretensi, hanya semata-mata ingin divalidasi. (Amin)