To Find Me: An Expedition
Ketika
jantung manusia hilang—bukan berhenti berdetak—hanya saja hilang, dalam
pengertian paling konyol, berdetak namun kehilangan jantung. Manusia, binatang
berakal dan rasional itu, berbondong-bondong berupaya mencarinya, mengembalikan
dirinya ke titik semula. Memanusiakan (sisi) manusianya. Hidup sekali lagi seperti reinkarnasi.
Merasakan rasanya bernafas bebas, bahkan jika tanpa oksigen.
Ada
harapan jauh dilubuk hati, untuk suatu hari bebas dari segala bentuk
eksploitasi, bahkan dari diri sendiri. Mungkin hari ini saya masih mengeksploitasi
diri sendiri, dari segala nilai yang eksistensinya hanya bersifat temporer.
Bicara mengenai nilai, begini, sesungguhnya saya benci angka-angka tertentu
yang gunanya untuk mengukur, dan mengukur disini berkaitan dengan nilai.
Kemudian, Nilai mengacu pada kadar hidup seseorang, yang pada akhirnya
melahirkan pretensi tertentu. Pretensi ini adalah ‘jubah’ yang dapat kita
tentukan. Namun teman-teman, sayangnya, telah kita sadari bahwa mungkin hari
ini, bahkan soal pretensi dimuka publik
atau jubah yang kita kenakan, tak lagi hanya dapat kita tentukan oleh
diri sendiri. Semua hal yang mampu mengukur kita, juga mampu menentukan jenis
jubah apa yang akan kita kenakan.
when did life become a blur?
Di awal
umur 20, saya mengalami situasi-situasi ngambang.
Umur 17-18 saya clueless, dan hari ini di paruh 19 tahun, “I need subtitles for this life i am living”
menjadi definisi paling sempurna untuk menjelaskan kegilaan saya sekarang. Saya
bisa menangis terus bahagia lagi, saya bisa bahagia terus menangis lagi. Setiap
hari ada saja pertanyaan mengenai ‘Hidup’ dan jawaban yang saya anggap tidak
masuk nalar untuk dilahap habis demi memahaminya.
Bagaimana
dengan jantung yang hilang? Tentunya masih. Saya masih kehilangan identitas
saya, dan sedang ditengah ekspedisi menemukannya. Untuk (semoga) dapat kembali
merasakan esensi hidup dengan jantung (amin). Di atas identitas sendiri, nama
dan jati diri sendiri.
Yang
membuat saya mulai menulis yakni kegamangan terhadap pertanyaan tentang hidup,
rasanya sukar sekali tinggal di dunia. Rasanya ada saja kendala. Dan sebelum
mengantarkan saya untuk berani menulisnya, saya sudah paham benar bagaimana rasanya
menolak fakta mengenai mungkin lo hanya
kurang bersyukur, kurang berempati, kurang bersedekah, dan mungkin terlalu sering
melihat ke atas, beserta teman-temannya. Namun, nyatanya saya selalu
bermuara di tengah ruang kamar saya dalam keadaan mata basah dan
bertanya-tanya.
Beberapakali
saya bertanya kepada teman-teman, “Hidup
lo bahagia gak?” dan dengan terkejut, tidak sedikit yang bilang tidak. Dan
saya mulai memiliki jawaban atas pertanyaan saya sendiri, dengan cara mendengar
orang-orang. Memahami medan seperti apa yang mereka lalui. Bagaimana cara
mereka bertahan dan melaluinya. Padahal, sebelumnya saya sudah tidak asing dengan
frase mengenai hidup seseorang yang berbeda-beda, masalah yang dihadapi pun
berbeda-beda, dan cara menyikapinya tentu berbeda-beda pula. Tapi yang tak saya
temukan disana, adalah pemahaman dari diri saya sendiri. Rupanya, hidup tidak
melulu tentang nasehat. Rupanya, belajar sendiri jauh melebihi dari hanya
mendengar nasehat orang lain. Karena, ingat, medan kita berbeda-beda.
What we need to highlight here is terkadang, we only see some parts of us that we lack about. Sayangnya segala
perasaan—hal-hal yang berbau emosional—tak dapat di atur dengan mudah. Saya tak
bisa menyuruh hati bahagia ketika sedang tidak, dan begitu sebaliknya. Semua
lahir murni karena kondisi yang sedang kita alami. Perasaan murung mengantarkan
kita kemari. Ke titik terendah yang kami miliki, bermuram, berharap dunia
tiba-tiba menjadi sesuai harapan kita. Hal yang saya kerap lupakan bahwa, saya
ditaruh di dunia atas perintah-Nya, untuk menjalani trajektori yang sudah
diberikan. Soal suka atau tidak, mau atau tidak, baik atau buruk, itu sudah
jauh letaknya dari tangan manusia. Toh katanya begini, Tuhan telah memberikan
hidup yang paling baik untuk hamba-Nya. Dan mengenai kesukaran, Tuhan pun tak
memberikan tingkat yang tak mampu hamba-Nya lewati. Jadi, bagaimana cara
terbaik untuk tidak terenyuh kepada bagian-bagian dari diri kita yang kita kira
kurang—padahal memang sudah dari sananya diberi jenis trajektori seperti ini?
Mungkin
rasanya sulit untuk tidak melakukan perbandingan. Untuk tidak memperhatikan
lubang-lubang dari diri kita. Untuk menimbulkan persepsi atas hidup orang lain
yang terlihat menyenangkan. Kadang kita lupa rasanya bahagia, sampai begitu
ingin untuk menjadi bahagia. Ingin menjadi seragam seperti orang lain: memiliki
barang yang bernilai, tempat tinggal yang baik, kekasih yang penyayang, orang
tua yang kaya raya. Ingin ini ingin itu.
Dan, apa
juga sebenarnya motif untuk menjadi seragam ditengah kehidupan sosial? living here where we buy something only by
clicks and get it later on, we hella
need an approval. Untuk dinilai pantas berada ditengah mereka. Untuk
menjadi bagian dari mereka. Untuk dilihat dan divalidasi. Kemudian lagi-lagi,
inilah bagaimana ‘mereka’ memutar otak kita agar mencari cara untuk mengenakan sejenis
pretensi yang ada, sehingga layak berselancar dilautan..... dimana sebagian
besar orang-orang seperti kita dengan insecurity
yang juga besar—mengapung dengan jubah-jubah mereka.
Menjelaskan
ini semua terasa seperti menjilat ludah sendiri. As I early said, saya benci
dengan adanya angka-angka tak kasat mata yang berguna untuk mengukur kadar
hidup seseorang. Dan mengenai pretensi demi validasi, saya harus bilang hal ini
ikut melahap saya, sehingga saya di hari ini, memandang hidup bagai bayangan
kabur. Saya hendak namai ini sebagai tragedi psikologi, tapi apa daya, saya
hanya seorang awam. Namun, perlu digarisbawahi, semua hal yang mengguncang
keseimbangan otak saya ini, yang menjadikan pandangan hidup kabur, mengantar
saya kepada suatu fakta: bahwa saya sedang dalam ekspedisi.
Untuk
menemukan jantung saya, sehingga (semoga) nantinya saya tak lagi menggunakan
jubah atau pretensi, hanya semata-mata ingin divalidasi. (Amin)