November 4, 2023

 Hingar bingar Oktober
 
Lucu bagaimana dunia bisa berubah sedemikian rupa dalam satu malam. Pernahkah kamu berpikir sesuatu hanya karena ingin memikirkannya? Bagaimana rasanya membayangkannya seolah itu nyata, namun kamu tidak pernah benar-benar mengharapkannya, hanya karena jika itu benar terjadi, mungkin kamu akan kelimpungan menghadapinya. Begitulah kiranya gambaran bulan Oktober saya kemarin. Saya seringkali berpikir, Mungkin saja besok saya akan sakit, karena saya rasa saya akan sakit. Lalu dalam satu malam, Tuhan amini pikiran angkuh itu. Tepat pagi harinya, saya terbangun dengan rasa sakit di perut saya. 
 
Boleh dibilang, berbulan-bulan saya mengapung di tengah lautan antah berantah, lumayan jauh dari Tuhan, tapi tak jarang bersikap seakan tau segalanya, mendahului kehendak Tuhan. Seperti sikap membayangkan akan hari esok ataupun masa depan, misalnya. Saya berlagak mahir menerka isi kepala Tuhan. Mungkin besok saya sakit, pikir saya angkuh. Atau dalam konteks lain, si angkuh itu meyakini, kau akan paham dengan sendirinya, tanpa perlu saya jelaskan lagi.
 
Yang kedua itu. Kebiasaan menerka isi hati manusia dan meyakininya secara terang-terangan, saya kapok benar melakukannya. 
 
Mengapa, tanyamu. 
Coba tanya sendiri pada dirimu.
Yang saya pikirkan dan yang terjadi, kerap berkebalikan.
 
Lalu kini masalah saya tak hanya berupa manusia lain, pun diri saya sendiri. Malam sebelum hari itu, saya menatap kosong ke langit kamar dan terheran-heran, seakan membaca sebuah nama disana. Mengapa dari sekian hari, harus dihari ini Ia muncul hanya untuk menambah kalut? Demi Tuhan, rasa sakit yang terasa tak sebanding dengan kalutnya hati dan kepala saya. Semua seperti melumat saya hidup-hidup. Keberadaan hari esok, seluruh ketiba-tibaan ini, serta nama yang entah mengapa muncul ditengah hingar bingar ini. Pergilah, saya membatin. Gapai mimpi paling tinggimu, lakukan apapun yang kamu mau sebagaimana nuranimu memintamu. Bukankah dunia adalah tempatmu bergembira? Toh, tak ada saya disana, sehingga saya tak perlu lagi menunggu kabarmu? Toh, tak ada saya disana, sehingga saya tak perlu percaya padamu seperti yang kau minta? Toh, tak ada saya disana…
 
Keesokannya, perasaan yang kadung kacau makin menjadi, tapi satu-satunya hal yang mampu saya pegang teguh adalah Tuhan. Mungkin terkadang soal Tuhan jadi nomor sekian. Dan mungkin memang saya tak begitu beriman.Tapi terserah, hari itu saya punya Tuhan, Tuhan yang tidak tidur, maka saya serahkan hidup dan mati saya kepada-Nya. 
 
Ada kalanya dalam hidup, kamu dapat menafsirkan peristiwa buruk dengan sesuatu yang sangat disyukuri. Penyakit dan operasi dadakan ini, contohnya. Di ruangan itu, tepat sebelum tindakan dimulai, sang dokter memimpin doa kelancaran dan kemudahan.  Menyampingkan apa yang ada di dunia ini, beserta perasaan kalut saya, detik itu saya menangis tersedu mendengar nama saya disebut dalam doanya. Tuhan, sebegitunya orang ingin saya lekas sehat, padahal kami tidak pernah ada relasi apa-apa sebelumnya, selain pertemuan kami kemarin di ruang pemeriksaan.
 
Saya ingat selanjutnya giliran saya yang bilang kepada Tuhan:  Ya Allah, hamba serahkan apa yang jadi milik-Mu. Tubuh ini, hidup ini, perasaan ini, seluruh isi dunia yang berkaitan dengan ku, semua ku kembalikan lagi kepada-Mu. Jikalau takdirku memang untuk melewati ini, aku menerimanya, tapi izinkan dan berikan hamba kekuatan, ketabahan, dan kelancaran dalam melewatinya. 
 
Dari sekian lelucon dan omong kosong yang biasa kamu utarakan, sekiranya sekali kamu mengucapkan hal masuk akal. Berdoa yang utuh, katamu waktu itu. Maka saya mengikutinya. Saya ucapkan semua yang saya inginkan, tentang kesembuhan, kedamaian batin, dan kehidupan saya kedepan. Dan agar keraguan hati, hingar bingar, serta perasaan saya yang tak karuan supaya lebur dan terbebas, sehingga tak menjadi soal dalam hidup saya kedepan. Seharusnya, begitu pula denganmu—yang juga punya segudang keraguan dan ketakutan yang tak terkendali, alih-alih menurutinya, lepaslah perlahan. Mimpimu memang terkadang tak masuk akal, namun sejujurnya selalu terdengar menyenangkan. Saya harap dan doakan kebaikan selalu menyertaimu. Dan yang kamu sungguh mau, saya harap Tuhan jadikan itu nyata kedepannya.
 
Hingga berakhirnya bulan Oktober, saya menafsirkannya sebagai bentuk ujian yang mungkin saat ini saya butuhkan. Pun terkadang, lebih dalam memahami kehidupan membuat kepala kliyengan, namun dengan begitu saya menyadari bahwa semua tak melulu berputar di dunia ini, namun juga kepada kehidupan setelahnya. 
 
Dan pesan saya untuknya, untuk Oktober, Terimakasih sudah menyempati datang. Kamu memang datang dengan gembira, menertawai saya yang sedang kesakitan. Tapi entah mengapa, saya bersyukur karenanya.